Salatiga — Di tengah maraknya ujaran kebencian dan polarisasi sosial yang makin meruncing, Pascasarjana UIN Salatiga melalui Center for Education, Peace and Social Justice (CEPaSo) mencoba melawan dengan cara yang tidak biasa: bicara. Tepatnya, bicara dengan penuh kesadaran dan strategi.

Dalam gelaran Wednesday Forum, Rabu 27 Agustus 2025, tema “Public Speaking untuk Perdamaian: Membangun Narasi Positif, Menolak Stigma Negatif” diangkat menjadi sorotan. Dua narasumber dihadirkan — Dini Rahmantika, M.Hum. dan Yusrina Nur Dianati, M.Si. — untuk membedah bagaimana keterampilan berbicara bukan sekadar teknik komunikasi, tetapi juga arena pertarungan ide, identitas, bahkan kekuasaan narasi.
Forum yang berlangsung di ruang rapat Pascasarjana UIN ini dipadati oleh mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan. Mereka hadir bukan hanya untuk belajar teknik vokal atau menghafal gestur tangan, tetapi untuk mengupas pertanyaan yang jauh lebih tajam: bisakah kata-kata menjadi alat perlawanan terhadap diskriminasi dan kekerasan simbolik?

Bicara Bukan Sekadar Bicara
Dalam pemaparannya, Dini Rahmantika menolak anggapan bahwa public speaking hanyalah urusan tampil percaya diri. “Public speaking adalah strategi. Narasi yang kita bangun bisa jadi jembatan atau justru tembok,” ujarnya tajam. Ia menyoroti pentingnya memilih diksi yang bukan hanya tepat, tapi juga etis dan kontekstual.
Dini mengingatkan bahwa di tengah masyarakat yang rentan dengan provokasi, satu kalimat bisa memicu dialog — atau sebaliknya, memperpanjang luka sosial.
Narasi sebagai Alat Pemberdayaan
Sementara itu, Yusrina Nur Dianati membawa diskusi ke arah yang lebih humanis. Ia menekankan bahwa keterampilan berbicara harus diarahkan untuk membuka ruang, bukan menutupnya. “Public speaking harus menyuarakan yang selama ini dibungkam. Bukan hanya tentang menjadi terdengar, tapi membuat orang lain merasa diwakili,” katanya.

Dalam konteks ini, public speaking bertransformasi menjadi medium inklusi — bukan panggung dominasi.
Tanya Jawab yang Membongkar Realita
Sesi diskusi menjadi titik klimaks. Mahasiswa Pascasarjana UIN Salatiga tidak segan melempar pertanyaan yang reflektif bahkan konfrontatif. Mereka mempertanyakan: bagaimana menyusun narasi damai di tengah konflik agama dan identitas? Bagaimana bicara tanpa menyinggung, tapi tetap tegas menyampaikan kebenaran?
Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan betapa tema forum kali ini bukan sekadar akademis — tapi personal dan politis.
Tips Praktis, Tapi Tidak Dangkal
Tak hanya konsep, forum ini juga menyajikan strategi konkret — dari cara mengatasi gugup di depan audiens yang heterogen, membangun kepercayaan diri, hingga menyisipkan teknik storytelling yang menyentuh emosi tanpa menjadi manipulatif.
Dialog antara narasumber dan peserta menjadi bukti bahwa belajar berbicara adalah juga belajar mendengarkan: tentang pengalaman, keresahan, dan harapan bersama.

Public Speaking: Antara Dialog dan Propaganda
Direktur CEPaSo menutup forum dengan pernyataan penting: “Public speaking bukan hanya seni retorika — tapi tanggung jawab sosial.” Ia menegaskan bahwa kemampuan bicara di ruang publik adalah jembatan menuju keadilan sosial, bukan panggung egosentrisme.
Forum ini, kata beliau, adalah bagian dari upaya UIN Salatiga membangun budaya akademik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berani, adil, dan damai.

Refleksi: Damai Itu Dimulai dari Kalimat Pertama
Kegiatan ditutup dengan pesan reflektif yang kuat: perdamaian tidak lahir dari senjata atau kekuasaan, tapi dari narasi yang kita bangun—kalimat demi kalimat, suara demi suara.